MLM yang Baik dan Benar

Saya termasuk orang yang suka sekali mempelajari sistem MLM (Multi Level Marketing). Sangat menarik. Pertama karena orang-orang yang bergabung dapat dari segala macam latar belakang. Kedua modal cukup kecil, tetapi dengan peluang penghasilan yang berpuluh-puluh kali lipat dari modal yang dikeluarkan. Ketiga, biasanya para member suatu MLM sangat loyal kepada perusahaan MLM yang dia ikuti. Keempat, banyak member yang gagal dan menimbulkan trauma, phobia, bahkan sampai diupayakan agar keluar FATWA bahwa MLM itu HARAM.

Dari sekian macam perusahaan MLM yang pernah saya ikuti dan pelajari, akhirnya saya menemukan suatu pedoman untuk memilih MLM yang Baik dan Benar. Selain kriteria-kriteria tertentu, maka TIGA HAL yang harus diperhatikan untuk menilai MLM itu baik atau buruk. Yang pertama adalah PRODUK harus ada. Kedua, harga produk harus sama atau bahkan lebih murah dibanding harga produk sejenis di pasaran non-MLM. Ketiga mencirikan benar-benar sebagai suatu bisnis PENJUALAN LANGSUNG (Direct Selling) yang legal (memiliki SIUPL dari Kementerian Perdagangan RI).

Setelah ketiga kriteria itu kita dapati ada pada suatu perusahaan MLM yang akan kita ikuti, atau kita sedang DIPROSPEK oleh kolega kita untuk bergabung menjadi DOWNLINE-nya, maka baru kita telusuri MARKETING PLAN-nya. Rahasianya yang pertama adalah pada HARGA PRODUK.  

Sudah menjadi aturan tidak tertulis, bahwa harga produk akhir itu besarnya paling rendah 200% harga produk DARI PABRIKNYA. Artinya jika suatu produk berharga Rp 100,000 maka produk itu dijual oleh pabriknya (produsennya) ke perusahaan penjual akhir Rp 50,000. Yang Rp 50,000 menjadi keuntungan penjual akhir, keuntungan grosir, keuntungan bandar dan biaya-biaya non transaksi seperti iklan, distribusi dan pergudangan. Bagaimana dengan pabrik atau produsen, dari mana pabrik memperoleh  keuntungannya?
Harga pabrik biasanya terdiri atas: harga bahan, biaya pabrikasi, dan keuntungan PABRIK. Jadi berapapun harga itu ditingkatkan oleh grosir dan pengecer, PABRIK tidak memperoleh tambahan keuntungan. Yang bertambah untung adalah penjual akhir atau penjual antara. Itu kalau produknya laku, dan diperhitungkan di akhir bulan…:-) atau sesuai perjanjian konsinyasi antara penjual dan produsen.

Lalu bagaimana dengan produk yang dipasarkan oleh perusahaan MLM? Sama saja. Perusahaan MLM “membeli” atau “kulakan” ke produsen Rp 50,000. Kemudian produk dijual kepada distributor (member) Rp 100,000. Nah yang Rp 50,000 itu merupakan KEUNTUNGAN PENJUALAN untuk PERUSAHAAN MLM dan PARA DISTRIBUTORNYA.  Kemudian sebagai usaha penjualan langsung, maka sifatnya harus ADA OMSET ADA UNTUNG bagi pencipta omset. Misalnya saja suatu perusahaan MLM menentukan persentase keuntungan penjualan maksimal 21% harga member (Rp 21,000 setiap paket produk yang terjual), maka seharusnya setiap DISTRIBUTOR berhasil MENJUAL (menciptakan omset) satu paket, dia harus langsung memperoleh keuntungan Rp 21,000 saat itu, paling tidak hitungannya tercatat oleh pencipta omset pada hari yang sama. Tentang pembayarannya terserah mau harian, mingguan atau bulanan, yang penting setiap kali seorang distributor menciptakan omset BAGI PERUSAHAAN, dia harus langsung TAHU berapa nilai BONUS yang akan diterima. Tidak harus menunggu keluarnya BONUS STATEMENT atau menunggu habisnya stok produk seperti pada sistem KONSINYASI.

Seharusnya tidak ada syarat lain untuk memperoleh Rp 21,000 itu kecuali OMSET. Aneh jika si pencipta omset dihitung atau dikonversi nilai penjualannya dengan POIN PENJUALAN. Misalnya satu paket produk dihitung 200 poin dan nilai bonusnya hanya 3% (padahal seharusnya 21%). Lalu si pencipta omset itu baru memperoleh persentase 21% jika telah menciptakan 10,000 poin penjualan atau lebih baik atas nama sendiri yang diperhitungkan pada akhir bulan(alias membeli atau menjualkan 50 paket, atau rata-rata sehari 2 paket jika sebulan dihitung 25 hari kerja).  Jika ke-50 paket itu merupakan omset jaringan, maka distributor leader (upline) memperoleh 21% bonusnya HANYA dari BELANJAANnya atau PENJUALANnya sendiri ke konsumen non-member. Omset lainnya harus diperhitungkan SELISIH persentase antara dia dan frontline ada atau tidak, karena dengan batasan 10,000 poin  atau lebih, tentu saja pada suatu saat persentase antara upline dan downline sama. Misalnya suatu jaringan pada bulan Maret 2011 beromset 500 paket produk yang dicitakan oleh 2 downline masing-masing 200 paket dan satu downline 100 paket,  yang berarti peringkat upline dan ketiga downline-nya sama-sama  mencapai maksimal 21%. Pada kondisi ini dia tidak akan memperoleh bonus sepeserpun dari omset jaringannya ketiga downline-nya itu.

Agar lebih jelas, berikut saya sampaikan ilustrasi sederhananya. Misalnya  ada 4 orang distributor dalam satu jaringan MLM: A, B, C dan D. A adalah top-upline. Tiga orang lainnya: B, C, D adalah FRINTLINE  A (downline yang langsung direkrut oleh A). Jaringan A dengan frontline B-C-D menciptakan omset 500 paket, dimana jaringan B 200 paket, jaringan C 200 paket dan jaringan D 100 paket. Peringkat A, B, C dan D sama-sama 21%, karena A memperoleh 100,000 poin (10 kali syarat peringkat maksimal 21%), B dan C masing-masing 40,000 poin dan D 20,000 poin. Nah, di akhir Maret nanti setelah diperhitungkan, maka A tidak akan memperoleh sepeserpun bonus dari omset B, C dan D yang bernilai 100,000 poin atau 500 paket produk itu, karena selisih peringkat bonusnya 21% – 21% = O%! Distributor  A hanya memperoleh bonus dari selisih peringkat jaringan para frontline-nya yang pada bulan Maret ini tidak mencapai omset 50 paket (10,000 poin).

Maka, jika suatu perusahaan memberlakukan sistem selisih persentase seperti ini, semakin banyak paket terjual oleh suatu jaringan distributornya, akan semakin kecil bonus top-uplinenya, karena akan banyak frontline yang menyamai peringkat bonus maksimumnya (21% setara dengan 10.000 poin atau lebih). Padahal omset jaringan semakin besar dan mungkin sangat besar. Akibatnya, banyak upline yang kemudian menjadi SALES, menjual produk dengan harga non-member yang biasanya lebih mahal 33% atau lebih dari harga member. Atau upline itu harus terus-menerus menambah FRONTLINE dan berusaha agar para frontline-nya tidak cepat-cepat berkembang mengejar dan menyamai peringkat…. Suatu sistem penjualan langsung yang sangat ironis bukan? Jaringan menciptakan omset besar untuk perusahaan, kok top-upline-nya malah semakin sedikit PENGHASILANNYA…? Padahal dengan jaringan yang semakin besar, tentunya biaya pengembangannya dan pemeliharaannya semakin MAHAL.

Ok, sampai di sini dulu bahasan tentang cara mempelajari MLM agar ANDA dapat menemukan MLM yang baik dan benar dari tinjauan HARGA PRODUK dan SISTEM PEMERINGKATAN BONUS maksimal 21%. Pada posting berikutnya akan saya sampaikan penelusuran MLM yang BAIK dan BENAR itu dari sudut pandang BONUS PLAN.
Salam sukses dari Bogor, sampai bertemu di artikel berikutnya….
klik ini: How MLM Works, lumayan untuk Anda pelajari, bagaimana sesungguhnya MLM bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar