Hidup itu Harapan

Seorang karyawan lembur hingga subuh karena teringat anak-anaknya yang masih usia sekolah.
Sedang seorang atlet berlatih keras dari pagi hingga petang, demi merebut sabuk turnamen bulan depan.
Seorang pasien bolak-balik menjalani terapi, sebab ia ingin sekali sembuh
Di tempat lain sepasang kakek-nenek yg sudah renta selalu antusias menunggu akhir pekan, karena saat itulah mereka dikunjungi sanak famili dan cucu2nya.
(serta masih banyak contoh lain)

Orang-orang ini menjalani kehidupan yang lebih ‘keras’ dibanding orang biasa. Keras dalam berbagai arti, bisa waktu… tenaga… pikiran… dll. Yang jelas disaat  orang lain sudah ‘pulang dan tidur nyenyak’, mereka2 justru sedang bersiap ‘masuk ronde kedua’. Satu kesamaan nyata: api semangat selalu menyala karena disulut oleh bahan bakar yang tidak pernah habis. Saya menyebut bahan bakar itu dengan kata.. HARAPAN.
Harapan ? sepintas kedengarannya abstrak, tapi bisa membangkitkan semangat menjalani kehidupan… membuat kita antusias bekerja, beraktifitas.. ulet dan gigih… serta membuat kita tidak peduli terhadap ‘duri-duri kecil’ yang mencoba menghalangi lintasan kita.
Ada ungkapan bijak yang berbunyi: Manusia bisa hidup 40 hari tanpa makanan  4 hari tanpa minum sama sekali. Namun.. ia tidak bisa hidup sedetikpun tanpa harapan.
Walau abstrak,Harapan bukanlah benda mati; ia hidup. Atau lebih tepatnya,  terpatri pada sesuatu yang hidup.

Banyak orang mengaitkan harapan dengan MASA YANG AKAN DATANG.
Ambil contoh…  seorang bapak menyimpan Harapan agar anak-anaknya bisa sekolah setinggi2nya, bahkan melebihi bapak mereka sendiri. Bermodalkan Harapan itu dia berusaha mencari uang sen tambahan di luar jam 9-5. Oleh karena itu orang yang berpengharapan selalu bersifat Visioner; jangan heran kalau mereka rela mengorbankan ke-kini-an dalam hidupnya untuk ditukar dengan Masadepan yang cerah.

HARAPAN ialah ketika kita dibutuhkan
suatu perasaan yang membangkitkan semangat ketika kita tahu bahwa kita sangat dibutuhkan oleh orang lain.. kehadiran kita,  support , atau bantuan yang kita berikan ternyata bermanfaat bagi orang lain, sehingga membuat kita ingin tinggal lebih lama sampai tidak dibutuhkan lagi. Dalam hal ini Harapan itu sifatnya dua arah; kita adalah harapan bagi orang tsb, dan kemajuannya yang ada sangkut-paut dengan kehadiran kita, membuat kita juga berharap banyak padanya.

HARAPAN juga tak bisa lepas dari teladan.
Jika sebelumnya Harapan=Masa Depan, maka Masa Depan boleh kita ‘intip’ dalam diri seseorang.  Teladan. Setiap orang pasti punya teladan atau panutan. Dengan mengetahui siapa teladan seseorang kita bisa menerka kira-kira mau jadi apa dia besok. Misalnya.. ada seorang pelajar melihat profesi dokter yang ditekuni orang lain.. setelah itu ia akan bergiat belajar dan pantang menyerah. “Saya harus bisa jadi seperti dia, harus..”, geramya sendiri dalam hati.

HARAPAN adalah sesuatu yang hidup..
Bodoh rasanya jika kita meletakkan harapan pada benda mati,.. yang tidak bisa tumbuh dan berbuah,..alias nggak bisa ngapa2in. Bahkan petani pun meletakkan Harapan pada tunas-tunas padi yang menyembul di permukaan tanah. Sebab segala sesuatu yang hidup bisa tumbuh dan berkembang.. dibentuk dan ditempah sesuai keinginan dan cita-cita.. Anak-anak adalah Harapan terbesar bagi kedua orang tua. Murid-murid adalah Harapan bagi para Guru. Diri kita di masa yang akan datang, juga Harapan bagi dirikita saat ini.

HARAPAN menjuhkan kita dari apa-yang-namanya kejenuhan
Sebab target kita bukan pada apa yang ada sudah pada diri kita hari ini,.  bukan.. melainkan pada yang akan datang.. sepanjang itu belum terpenuhi kita akan terus melaju tanpa mengenal kata ‘bosan’ ‘boring’ dan sebagainya. (berhati-hatilah pada orang yang berkata hidupnya membosankan, Bsa jadi ia sudah kehilangan harapan).
..
Singkat kata setiap orang yang memiliki harapan maka jiwanya akan menyala (hidup) dan berkobar (antusias). Ia memiliki tujuan akan segala sesuatu yang dikerjakannya. Motivasi yang tak pernah padam. maka berhati-hatilah jika Anda orang yang sudah tidak meletakkan harapan pada apapun juga,.. tidak hidup bagi siapapun.. maka untuk apa meneruskan kesia-siaan tersebut?
Siapakah sosok yang menjadi tumpuan harapan Anda saat ini?
(inset: seorang pengumpul barang bekas dengan gerobak merangkap tempat tinggal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar